Upacara Sisombou

UPACARA sisombou adalah upacara tradisi (adat) masyarakat yang hanya dilaksanakan pada momen acara-acara tertentu saja, seperti pada acara nikah-kawin atau pada acara-acara adat seperti pengkuhan gelar para tetua adat. Sisombou juga sering dibawakan pada acara kenduri tertentu seperti kenduri memberi nama anak bahkan pada kenduri 'doa arwah' juga dilaksanakan meskipun pada momen ini lebih kepada latihan bersisombou saja.

Di Desa Airtiris (sekitar tahun 80-an lalu, masih berstatus desa waktu itu) yang kini sudah dimekarkan beberapa kali, selalu ada acara sisombou dalam berbagai acara. Upacara sisombou adalah satu kegiatan acara berbalas-jawab (dalog) antara dua orang atau lebih dalam bentuk kata-kata atau kalimat yang indah. Setiap kata atau kalimat yang dilontarkan dalam sisombou selalu dalam bentuk pantun, kata mutiara atau peribahasa bernilai tinggi. Sepintas, menyimak upacara sisombou itu bagaikan orang yang sedang berbalas pantun dengan menggunakan bahasa atau dialek daerah, yaitu Bahasa Kampar yang lebih dikenal dengan sebutan Bahasa Ocu..

Perhatikan contoh kalimat-kalimat yang dipakai dalam dialog berikut, 
Mm D      : Pandang jauoh lah ambo layangkan; nan bak layang olang manari. Pandang dokek lah ambo tukiokkan; Nan bak tukiok si limang makan. Sampai ditengok tu kini, urang limbago condo nan tacoliok tampak jauoh; nan dokek jolong tasongo; nan togak di simpang jalan; nan duduok di sompan penambangan. Sampai ditengok pihak di kami, bosuo bonou baknyie urang, Kacimpuong panenan mandiKecek-mengecek pakaian duduok. Condo ikolah nan dituntuik nyato dipinto abi bokek Urang Limbago. Yo, kok dapek izin jo bonou dari Urang Limbago, makosuik nak kecek-mengecek sapatah duo jo niniok-mamak nan mananti. Makosuik sampai baito abi, sadetulah kato disampaikan kek Urang Limbago.

(Pandang jauh telah saya layangkan; ibarat melayang elang menari. Pandang dekat telah saya tukikkan, ibarat menukiknya si limang makan.
Sampai dilihat, urang limbago tampaknya yang terlihat tampak jauh; yang dekat awal bertemu; yang berdiri di simpang jalan; yang duduk di sampan penambangan.
Sampai dilihat pada pihak kami, memang benar apa yang dikatakan orang :
                                            Kecimpung permainan mandi
                                            Bincang-berbincang pakaian duduk  
Tampaknya inilah yang dituntut nyata, dipinta habis kepada urang limbago. Ya ...jika dapat izin dan benar dari urang limbago, maksud ingin berbincang-bincang sepatah dua dengan ninik mamak yang menanti. Maksud sampai, berita habis. Itulah kata diantarkan pada urang limbago.
 


UL               : Sampai, Tuok?
Pulang bokek ambo indak le kan bajawek panjang. Cuma dek gayuong biaso juo basambuik; kato biaso pulo bajawek. Kan ambo jawab juo sapatah duo patah.
(Sampai, Tuk ? Kembali kepada saya, rasa tidaklah akan berjawab panjang. Hanya, karena gayung biasa juga bersambut; kata biasa pula berjawab. Kan saya jawab juga sepatah dua patah.)

   Mm  D       :  Silakan, urang limbago !
                      (Silakan, urang limbago!)

UL             :   Sabagai maulang kilin, manikam jojak; condo ambo pulo nyie Datuok nan tacoliok   tampak jauoh; nan dokek jolong tasongo; nan togak di simpang jalan; nan duduok di sompan penambangan. 
(sebagai mengulang kilin, menikam jejak; tampaknya saya pula kata datuk yang terlihat tampak jauh; yang dekat awal bertemu; yang berdiri di simpang jalan; yang duduk di sampan penambangan) [Kutipan Sisombou Sastra Riau]

Tampak pada kutipan dialog itu bagaimana kalimat-kalimat peribahasa yang terkadang berbunyi pantun diucapkan. Kalimat-kalimat itu sama sekali tidak menggunakan teks ketika dibawakan oleh para pelaku/ pelaksana sisombou. Dia benar-benar diucapkan begitu saja. Itulah sebabnya disebuat pula sisombou itu sebagai sastra lisan. 

Singkatan UL (Urang Limbago) maksudnya tokoh pihak tuan rumah yang biasanya diperankan oleh suami dari tuan rumah. Sementara singkatan MmD dalam teks adalah Mamak yang Datang, maksudnya tamu dalam acara tersebut. Biasanya pembagian mamak (tokoh) dalam sisombou itu dibedakan oleh para pihak yang menjadi tuan rumah atau tamu. Selain tokoh UL dan MmD masih ada tokoh lain yang juga tampil dalam satu upacara sisombou, seperti 'mamak nan mananti' disingkat dalam teks dialog menjadi MmM.
Kenduri dengan duduk Berhadapan Tamu-Tuan Rumah

Dalam melaksanakan upacara sisombou memang terdapat beberapa pihak yang akan tampil sebagai pihak-pihak yang ikut berbicara. Para pihak itu terangkum dalam dua kategori, sebagai pihak yang datang (tamu) dan pihak yang menunggu, tuan rumah. Yang pertama tampil (menyapa) adalah perwakilan tamu yang biasanya diperankan oleh mamak/ paman dari pihak yang datang. Dalam sebuah acara kenduri nikah-kawin, misalnya yang datang itu adalah pihak laki-laki. Maka mamak/ paman dari pihak laki-laki itulah yang pertama menyapa. Sapaannya disampaikan kepada tuan rumah (bapak/ ayah/ wakil) dari pihak perempuan. Untuk tokoh inilah yang disebut dengan istilah 'urang limbago' alias orang lembaga yang sesungguhnya tuan rumah yang punya hajat.

Dialog antara utusan yang datang (tamu) dengan tuan rumah akan terus berlanjut sesuai dengan hajat apa yang akan disampaikan dalam dialog tersebut. Seperti dialog pembukaan diatas, itu merupakan dialog pembuka yang baru menyampaikan keinginan untuk menyampaikan sesuatu. Belum ada topik atau masalah yang disampaikan tersebut. Pada contoh dialog sisombou yang lengkap akan kelihatan topik dialog dimaksud.

Upacara sisombou menjadi acara yang terkadang ditunggu oleh masyarakat yang menggemarinya walaupun terkadang ada juga masyarakat yang bosan mengikutinya karena begitu lamanya acara sisombou itu. Untuk mempersilakan makan (menyantap makanan) dalam suatu kenduri saja bisa memakai waktu lama. Maka ada masayrakat yang beranggapan pula bahwa uocara sisombou itu tidak perlu. Sebaliknya bagi yang menyukai, terutama para tetua adat, memandang bahwa upcara sisombou itu perlu dan harus terus dilestarikan.***

Postingan populer dari blog ini

Contoh Teks Sisombou 'Ulu Tepak'

Sisombou itu Apa?

Sisombou Mengimbau